Peran Ekstrakurikuler Seni dalam Pengembangan Karakter Siswa Sekolah Menengah Atas
DOI:
https://doi.org/10.61116/jp3t.v3i1.575Keywords:
Ekstrakurikuler, Seni, Karakter, Siswa, Sekolah Menengah AtasAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ekstrakurikuler seni dalam pengembangan karakter siswa di SMA N 1 Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai. Fokus utama adalah mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang terbentuk melalui partisipasi siswa dalam kegiatan seni, seperti tari, musik, dan teater. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, melibatkan 15 siswa yang aktif di ekstrakurikuler seni, 5 guru pembina, dan 3 orang tua. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrakurikuler seni berperan signifikan dalam membentuk berbagai karakter positif, di antaranya disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan kreativitas. Melalui proses latihan dan pementasan, siswa belajar untuk menghargai proses, mengatasi tantangan, dan berinteraksi secara efektif. Meskipun demikian, ditemukan pula tantangan seperti kurangnya dukungan finansial dan ketersediaan waktu. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak hanya terjadi di kelas formal, tetapi juga dapat diimplementasikan secara efektif melalui kegiatan non-akademik. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi sekolah untuk meningkatkan dukungan terhadap program ekstrakurikuler seni sebagai media strategis dalam membentuk karakter generasi muda.
References
Akbar, F. (2020). Peran Ekstrakurikuler Teater dalam Membentuk Karakter Percaya Diri dan Kerjasama Siswa. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(2), 115–130.
Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman and Company.
Bogdan, R. C., & Biklen, S. K. (1998). Qualitative research for education: An introduction to theory and methods (3rd ed.). Allyn & Bacon.
Borba, M. (2016). UnSelfie: Why empathetic kids succeed in our all-about-me world. Atria Books.
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa
Catterall, J. S. (2009). Doing well and doing good by doing art: The effects of art on the lives of adolescents. IAP.
Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2018). Research methods in education (8th ed.). Routledge.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage publications.
Davis, F. D. (1989). Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and User Acceptance of Information Technology. MIS Quarterly, 13(3), 319–340. https://doi.org/10.2307/249008
Dewi, S., & Widodo, A. (2021). Analisis Dampak Ekstrakurikuler Seni Musik Terhadap Disiplin dan Tanggung Jawab Siswa SMA. Jurnal Pendidikan Seni, 12(1), 45–60.
Gardner, H. (2011). Frames of mind: The theory of multiple intelligences. Basic Books.
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.
Hidayat, R. (2019). Pengaruh Kegiatan Ekstrakurikuler terhadap Pengembangan Karakter Toleransi dan Empati Siswa SMA. Jurnal Ilmu Pendidikan Sosial, 9(3), 201–215.
Iswanto, B. (2022). Peran Ekstrakurikuler dalam Menumbuhkan Nilai Pancasila pada Siswa. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, 5(1), 20–35.
Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice-Hall.
Lestari, A. P. (2018). Psikologi Perkembangan Remaja. Kencana.
Lestari, D., & Widodo, A. (2021). Analisis Konten Edukasi di YouTube untuk Pengembangan Karakter Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Dasar, 11(2), 201–215.
Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.
Minister of Education and Culture. (2020). Pedoman Pendidikan Karakter di Sekolah.
Noddings, N. (2002). Educating moral people: A caring alternative to character education. Teachers College Press.
OECD. (2018). The future of education and skills: Education 2030. OECD Publishing.
Piaget, J. (1962). The psychology of intelligence. Littlefield Adams.
Pratama, B., & Sari, N. (2022). Peran Guru Pembina dalam Mengoptimalkan Pengembangan Karakter Siswa Melalui Ekstrakurikuler Seni Tari. Jurnal Manajemen Pendidikan, 11(4), 310–325.
Puskur. (2022). Profil Pelajar Pancasila. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Rahmat, A. (2018). Pembentukan Karakter Berpikir Kritis Melalui Ekstrakurikuler Fotografi di SMA. Jurnal Kajian Pendidikan, 5(1), 10–25.
Sari, N., & Pratama, B. (2022). Peran Guru Pembina dalam Mengoptimalkan Pengembangan Karakter Siswa Melalui Ekstrakurikuler Seni Tari. Jurnal Manajemen Pendidikan, 11(4), 310–325.
Strauss, A., & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: Techniques and procedures for developing grounded theory (2nd ed.). Sage Publications.
Suryabrata, S. (2012). Metodologi Penelitian Pendidikan. Raja Grafindo Persada.
Susanto, B. (2017). Studi Komparasi Pengembangan Karakter Antara Siswa Peserta Ekstrakurikuler Seni dan Non-Seni. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 23(2), 150–165.
Susilo, M. A. (2019). Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dan Seni. Pustaka Pelajar.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.
Wibowo, A. (2019). Peran Ekstrakurikuler dalam Pembentukan Karakter Siswa. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 6(3), 120–135.
Widiastuti, A. (2018). Studi Fenomenologi Pengalaman Siswa dalam Mengembangkan Karakter Melalui Seni Teater di Sekolah. Jurnal Seni dan Budaya, 8(1), 45–60.
Yusuf, M. (2020). Integrasi Nilai-nilai Moral dalam Ekstrakurikuler Seni Rupa. Jurnal Pendidikan Moral, 14(1), 77–90.
Zubaidah, S. (2016). Keterampilan Abad Ke-21: Keterampilan Berpikir Kritis dan Keterampilan Kolaborasi. Jurnal Penelitian Pendidikan, 16(2), 1–15.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Afrianti Sembiring, Nona Carolina

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







