Dari Ritual Adat ke Destinasi Wisata: Transformasi Kelembagaan Seumeuleung Raja dalam Tata Kelola Pariwisata Budaya Berkelanjutan
DOI:
https://doi.org/10.61116/jp3t.v4i1.1231Keywords:
Adat, Wisata, Kelembagaan, Seumeuleung Raja, Pariwisata, BudayaAbstract
Tradisi Seumeuleung Raja di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, merupakan warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai historis, spiritual, dan sosial, tetapi juga menunjukkan potensi sebagai daya tarik wisata budaya. Perkembangan tersebut menghadirkan tantangan tata kelola, terutama dalam mempertahankan otoritas kelembagaan adat di tengah meningkatnya keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan kepentingan pariwisata. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi kelembagaan Seumeuleung Raja dari ritual adat menuju wisata budaya serta menjelaskan mekanisme tata kelola yang mendukung keberlanjutannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan informan yang dipilih secara purposive, meliputi pemangku lembaga adat, pemerintah daerah, pemerintahan gampong, dan anggota rumpun Kerajaan Daya Poteumeureuhom. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seumeuleung Raja memiliki hierarki kelembagaan yang jelas, dengan Sultan atau keluarga pewaris sebagai sumber legitimasi adat, didukung pejabat adat, pemerintahan gampong, dan pemerintah daerah. Transformasi menuju wisata budaya tidak menghilangkan otoritas adat, tetapi mendorong reposisi fungsi kelembagaan melalui pembagian kewenangan antara aspek sakral yang dipertahankan berdasarkan amanat adat dan aspek operasional yang dikelola melalui musyawarah serta koordinasi lintas aktor. Temuan ini menunjukkan terbentuknya tata kelola yang adaptif dan kolaboratif, di mana kelembagaan adat berperan sebagai indigenous intermediary antara pelestarian budaya, pemerintahan formal, partisipasi masyarakat, dan pengembangan pariwisata. Penelitian berkontribusi pada kajian heritage tourism governance dengan menunjukkan bahwa keberlanjutan wisata budaya tidak semata ditentukan oleh pengembangan destinasi, tetapi oleh kemampuan kelembagaan adat beradaptasi tanpa kehilangan legitimasi dan otoritas budayanya.
References
Akilah, U. I. (2026). Analisis Dampak Revitalisasi Unesco Terhadap Komunitas Lokal : Studi Kasus Taman Sari Yogyakarta Dan Armenian Street George Town Impact Analysis Of Unesco Revitalization On Local Communities : A Case Study Of Taman Sari Yogyakarta. Jurnal Balitbangda. Ampungprov, 14(01), 79–90.
Al, M., Buchari, A., Qodir, I., Takengon, I., & Takengon, I. (2025). Revitalisasi Lembaga Adat sebagai Instrumen Pemberdayaan Masyarakat Aceh : Studi Implementasi Pasal 98-99 UU Pemerintahan Aceh. 15(1), 1–11. https://doi.org/10.54604/mbz.v15i1.540
Aliflyantera, J., Sulistyarso, H., Perencanaan, J., Teknik, F., & Teknologi, I. (2016). Arahan Pengembangan “ Kampung Majapahit ” Budaya Kecamatan Trowulan , Kabupaten Mojokerto. 5(2), 873–879.
Azhari, R., Ramadhani, W., & Reza, F. (2023). Penguatan Lembaga Adat Tuha Peut Dalam Penyelesaian Perselisihan Masyarakat Aceh. Ndonesian Journal of Criminal Law and Criminology (IJCLC), 4(1), 40–47.
Bagus, I., & Paramita, G. (2025). Integrasi Kearifan Lokal Tri Hita Karana Dalam Pengelolaan Pariwisata Berkelanjutan : Studi Kasus Desa Penglipuran , Bali. CULTOURE: Jurnal Ilmiah Pariwisata Budaya Hindu, 6(1), 63–75.
Basri, L., Jamlaay, S., Ayuniza, P., Hulihulis, R., & Mambrasar, S. (2025). Pembangunan Dan Indentitas Sosial:Kajian Literatur Tentang Interaksi Antara Modernisasi Dan Pelestarian Tradisi Dalam Masyarakat Lokal. Papua Journal of Sociology (PJS), 3(1). https://ejournal.um-sorong.ac.id/index.php/pjs
Basyar, M. R., Mardiyanta, A., & Setijaningrum, E. (2025). Multi-Stakeholder Analysis in Building Tourism Resilience : Collaborative Governance Implementation in the Majapahit House Heritage Area , Indonesia. 1–21.
Carr, A., Ruhanen, L., Whitford, M., Carr, A., Ruhanen, L., & Whitford, M. (2016). Indigenous peoples and tourism : the challenges and opportunities for sustainable tourism. Journal of Sustainable Tourism, 24(8–9), 1067–1079. https://doi.org/10.1080/09669582.2016.1206112
Chotib, H. M. (2024). The Role of Traditional Leaders in Local Governance : A Case Study of Jambi Province , Indonesia. Enigma in Cultural, 2(2), 117–130.
Delina, L. L., Shi, L., Dharmiasih, W., Salamanca, A., & Tam, K. (2025). Heritage governance in Bali and Ifugao ricescapes : exploring the dynamic roles of Indigenous intermediaries in cultural preservation and development. 44(December), 549–567.
Ekawati, S., & Nurrochmat, D. R. (2014). Hubungan Modal Sosial dengan Pemanfaatan dan Kelestarian Hutan Lindung ( Relationship Beetween Social Capital With Utilization and Sustainability of Protected Forest ). Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 11(1), 40–53.
Hanchotiphan, P., & Kasemsarn, K. (2026). Artistic Interventions as Urban Planning Tools : A Systematic Review of Community-Based Cultural Tourism in Cities.
Herizal, H., Rassanjani, S., & Muhkrijal, M. (2021). Kebijakan Kepariwisataan di Provinsi Aceh: Peluang dan Tantangan. Jurnal Public Policy, 7(1), 21. https://doi.org/10.35308/jpp.v7i1.3341
Kronenberg, K., & Fuchs, M. (2021). Aligning tourism ’ s socio-economic impact with the United Nations ’ sustainable development goals. Tourism Management Perspectives, 39(September 2020), 100831. https://doi.org/10.1016/j.tmp.2021.100831
Li, G., Norhazliza Abd Halim, & Liu, M. (2026). From Community Participation To Responsible Governance In Cultural Heritage Tourism: A Systematic Literature Review. Journal of Nusantara Studies, 11(2), 209–227.
Nurlizai, T. M., Satriya, B., & Sadhana, K. (2019). Tradition of Peumeunab and Seumeuleung as A Culture of The Kingdom Negeri Daya. III(Xii), 372–382.
Pietroni, E., & Ferdani, D. (2021). Virtual Restoration and Virtual Reconstruction in Cultural Heritage : Terminology , Methodologies , Visual Representation Techniques and Cognitive Models.
Rahmawati, M., & Ikramatoun, S. (2024). Charisma , Tradition , and Rationality : The Authority of Teungku in Maintaining Social Order Research Methods Socio-Religious Landscape of Gampong Krueng Tunong. 1–12.
Routh, R., Bhavsar, D., & Pandya, P. (2025). Exploring participatory governance in Indian cultural heritage : perceptions , practices , and challenges.
Steinke, J., Ortiz-Crespo, B., van Etten, J., & Müller, A. (2022). Participatory design of digital innovation in agricultural research-for-development: insights from practice. Agricultural Systems, 195, 103313. https://doi.org/10.1016/j.agsy.2021.103313
Subhi, K. T., Auri, C. J., Rasmadi, I. W. D., Babut, W. R., Subandrio, A. A., Suri, K. A., Eleonora, M., Noach, R., Kambaniru, M. M. P., & Gokok, T. (2026). Heritage-Led Urban Regeneration in Living Heritage Sites of the Global South : A Systematic Literature Review of Governance , Community Impacts , and Adaptive Reuse. 1–24.
Widyawati, C. (2018). Peranan Partisipasi Masyarakat Lokal Dalam Pengembangan Wisata Heritage di Trowulan. 5(2), 83–94.
Willem K . Korthals Altes, Reinout Kleinhans, & Evert Meijers. (2018). Relational versus local values of cultural heritage Tourism gentrification and governance in context. Socio.Hu Társadalomtudományi Szemle, 1–22. https://doi.org/10.18030/socio.hu.2018en.1
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muntaha Mardhatillah, Ikhwan Rahmatika Latif, Sudarman Sudarman, Nurhaslita Sari

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








